Ketika anda pertama kali memulai, paling mudah adalah mengatur kamera ke settingan Automatic dan biarkan kamera bekerja untuk Anda .

Tapi itu hanya sebuah robot kecil di sana yang gak tahu apa-apa tentang cerita atau karakter tokoh yang ingin di tampilkan. Dan robot kecil ini juga yang menggambil keputusan atas nama anda

Apakah anda benar-benar ingin itu (settingan otomatis)?

Tentu saja tidak . Tapi seperti saya katakan , itu mudah dilakukan - karena tidak menantang Anda .

Namun, setelah Anda mulai merasa lebih nyaman dengan pengaturan kamera Anda dan beralih ke mode manual, Anda akan benar-benar mulai merasa seperti seorang pendongeng

Sebenarnya hanya ada 6 setingan utama  yang perlu di perhatikan sebelum memulai record pada mode manual.
6 ? enam itu apa saja?

 

Picture Profile

Picture Profile pada kamera atau " picture style " adalah sesuatu yang kita selalu atur secara manual,
sehingga kita dapat menyesuaikan hal-hal seperti kontras dan saturasi untuk menyesuaikan dengan
cerita kita daripada membiarkan kamera secara otomatis mengatur untuk kita . Dengan melakukan ini
kita memiliki kebebasan lebih banyak untuk mengubah tampilan

Dalam Picture Profile (picture style)ada 4 parameter : contrast, saturation, sharpness, and color tone.

 

Contrast. kita harus fokus pada komponent penting ini.besar atau kecilnya penggaturan pada opsi ini tergantung pada keinginan kita nanti pada proses .saya pribadi terbiasa menset-kontras sedikit lebih kecil / tipis dari pada setinga standart, kita tahu bahwa kita bisa berbuat lebih banyak dalam post-produksi nantinya.tentu saja setelah saya yakin memiliki SDM dan waktu yang cukup untuk mengedit footage yang saya ambil. Setinggan kontras yang kecil juga sangat baik di aplikasikan pada keadaan yang berlimbah cahaya maupun minim cahaya.

Saturation. Pengaturan ini tergantung pada cerita . saya menambah amount-nya untuk gambar yang berenergi tinggi –( seperti sesuatu yang atletis dengan banyak gerakan) , dan saya menurunkan amount-nya untuk gambar energi yang lebih rendah - seperti sesuatu yang indah .

Sharpness. Ini salah satu component yang sangat jarang kita seting, tapi pada saat-saat tertentu kita harus menurunkan sharpness contoh : sesuatu dengan banyak warna dan pola yang berbeda atau seperti latar belakang yang sangat sibuk atau sesuatu dengan banyak baris seperti satu set bangku-bangku.

Dengan mengurangi ketajaman , Anda meminimalisir moire , yang merupakan efek yang diciptakan oleh detail super halus seperti garis-garis dan titik-titik yang menggangu mata kita.

Color Tone. Sejujurnya , saya tidak pernah menyesuaikan pengaturan ini , karena saya secara manual mengatur temperatur warna pada white balance, oke kita langsung ke hal kedua….

Kelvin White Balancez

Kelvin temperature atau pada kamera biasa di sebut “Color temp.” adalah skala untuk mengukur suhu warna cahaya , dari kuning menjadi biru.

Dengan men-setting “Color temp.” Pada White Balance secara manual kita memiliki kontrol penuh atas warna di footage, yang akan memberikan kontrol penuh ke kita untuk tampilan dan nuansa .biasanya untuk suasana normal seperti pada siang hari saya biasa set ke daylight, sekitar 5600.

 

 

 

 

lihatlah perbedaan warna yang terjadi pada topi keju pada setinggan 5600 dan 3200


men-setting “Color temp” Pada White Balance terlihat merepotkan pada awalnya , tetapi  ini adalah hal penting untuk menetukan suasana yang anda ingin sampaikan pada penonton. Dan ini juga yang menentukan kredibilitas anda sebagai film maker atau seniman.

Frame Rate

saya selalu periksa frame rate dua kali, karena pada 24fps vs 30fps vs 60fps akan berubah pesan yang ingin saya sampaikan pada cerita.
Setiap frame rate menyertai berbagai jenis pemotretan :

24fps : Ini adalah setingga yang paling sering kita gunakan, karena ini seperti mata kita melihat pada kehidupan nyata. Ini adalah tampilan yang lebih filmis.biasanya saya selalu mengunakan settingan ini, kecuali saya menginginkan footage slow motion

30fps : frame rate ini lebih terasa seperti video rumahan, sebenarnya antara 24fps / 30fps tergantung pilihan kita.

60fps : Biasanya saya gunakan untuk menghasilkan footage slowmotion.jadi memeriksa frame rate adalah hanya sekedar memilih 24fps atau 30fps.
Aperture , Shutter Speed ​​, dan ISO : The Triangle Exposure

Cara terbaik untuk menjelaskan 3 pengaturan terakhir di tulisan kali ini adalah mengulas semua sekaligus. Karena setiap pengaturan pada tiap component mempengaruhi yang lainya. Mereka adalah 3 dalam 1 ( 1 yang terbagi 3) mereka saling berharmony untuk mendapatkan footage yang indah. dan belakang ini kita di manjakan software "magic lantern" yang sangat memudahlan kita dalam pengambilan video karna fitur fiturnya


kita menggenalnya sebagai segitiga eksposur, dan ketika anda merubah salah satunya anda merubah jumlah cahaya yang masuk ke kamera anda.

Eksposure yang baik (optimal) adalah ketika bagian paling gelap atau paling terang masih memiliki detail

Aperture

Aperture adalah seberapa luas Anda membuka lensa Anda . Jika Anda berada di ruang gelap dan perlu membiarkan lebih banyak cahaya masuk, Anda akan membuka aperture Anda agar semakin banyak cahaya yang masuk (tertangkap) oleh sensor kamera. Beberapa lensa mempunyai bukaan lebih lebar dari pada yang lainya. jika Anda ingin lensa dengan aperture yang mempunyai banyak pilihan, pilihlah lensa yang mempunya bukaan lebar dari f/2.8-f/1.2 .
Dengan membuka atau menutup aperture, Anda mempengaruhi depth of field pada gambar Anda . dengan membuka apature selebar mungkin akan memberikan kedalaman dangkal pada gambar anda sehingga lebih banyak blur di baground maupun foreground (latar belakang dan latar depan).

Lihatlah perbedaan antara aperture terbuka lebar dan bukaan yang lebih kecil :

Di sini kita berada pada di f/1.2 :

Dan Di sini kita berada pada di f/16 :

kalau apature adalah bagaimana lensa mengatur jumlah cahaya yang di terima sensor sedangkan ISO adalah bagaimana sensor kita menggatur kepekaan terhadap cahaya.

ISO

jadi,  ISO menentukan kepekaan terhadap cahaya : semakin tinggi nilai ISO , semakin sensitif sensor Anda dan terang gambar akan.
ISO yang `normal`adalah sekitar 200-1600 , dan Anda menyesuaikan ini berdasarkan kecerahan atau ketersedianya cahaya. Jadi misalnya : pada hari yang super cerah Anda akan mengatur ISO yang lebih rendah , sekitar 200 atau 100 .

setinggan ISO yang sangat tinggi seperti 3200 atau lebih akan menimbulkan noise , yang merupakan tekstur kasar pada gambar yang umumnya tidak diinginkan(umumnya seperti titik titik kasar).

Shutter Speed

Kecepatan rana atau Shutter Speed adalah jumlah waktu shutter terbuka dan mengekspos cahaya ke sensor.

Shutter Speed diukur dalam sepersekian detik : 1/60 berarti bahwa shutter terbuka untuk 1/60 detik . Sebuah kecepatan 1/500 lebih cepat , dan 1/10000 akan seperti ... benar-benar cepat .

Semakin cepat shutter Anda membuka dan menutup , semakin sedikit Anda perlu khawatir tentang `motion blur`. Tapi kadang-kadang Anda mungkin ingin motion blur , dalam hal ini Anda perlu memperlambat Shutter Speed.

Ketika datang untuk memilih Shutter Speed, aturan umum paling praktis adalah  dua kali frame rate yang kita pilih .

Jadi , jika kita menggunakan 24fps, setinglah Shutter Speed di 1/50. ( atau berapapun yang mendekati nilai tersebut - beberapa kamera tidak menyediakan di tepat 1/50 ) .

berikut ilustrasi segitiga exposure dalam mempengaruhi terang atau gelapnya gambar.

Dengan shutter speed, ISO, dan aperture dan semua bekerja sama untuk menciptakan citra gambar yang seimbang. Dan semua tergantung footage yang anda inginkan. Jika Anda ingin motion blur  tentunya mengunakan shuter speed rendah dan mungkin perlu untuk men-set apature pada bukaan kecil
Sebaliknya, jika Anda ingin aperture terbuka lebar untuk mendapatkan kedalaman yang dangkal(blur di background maupun foreground), Anda harus men-set shuter speed lebih cepat untuk mendukung aperture.

5 aplikasi cinematrografi di android

Refrensi dari : stillmotionblog.com

RECENT POST:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Themes
Scroll to Top